Rabu, Agustus 15, 2012
Obama Mengungkapkan Siapa Jatidirinya
Komentar Barak Obama menggemparkan karena hal itu mengingatkan orang Amerika bahwa mereka sedang ditipu dan demokrasi Amerika tidak lain adalah kendali pikiran alias mind control.
Orang Amerika tidak ingin diperdayakan, akan tetapi mereka meminta sebuah kompetensi tingkat tertentu. Mereka tidak menghendaki kebenaran dicampakkan secara kasar dan ditamparkan ke wajah mereka.
Komentar Obama membakar karena dia membiarkan topengnya terbuka dan menunjukkan siapa sebenarnya. Dia seorang Komunis. Ayah dan ibunya juga Komunis serta dia bangga akan warisan keluarganya.
Kita telah mengetahui di masa lampau bahwa Komunisme adalah sebuah pemberontakan kelas pekerja untuk kepemilikan dan keadilan publik. Itu baru sekedar window dressing untuk menangkap idealisme orang-orang yang "useful idiots." Komunisme adalah kekejaman pemerintah yang dirancang oleh London-pusatnya Illuminati, pemilik bank, sebagai sponsor yang menghisap semua kekayaan dunia. Beberapa bentuk dari Komunisme adalah wajah sebenarnya dari Tata Dunia Baru.
Illuminati adalah tingkat tertinggi dari Freemasonry, perkumpulan rahasia yang menyerupai gurita yang mana para bankir memanfaatkannya dalam rangka melaksanakan kekuasaannya. Obama seorang anggota Illuminati, demikian juga dengan Clinton dan McCain.
MENGURAIKAN KOMENTAR OBAMA
Sebagaimana telah Saya katakan, Illuminati memperbudak kita dengan cara menghancurkan empat pilar identitas kemanusiaan, yaitu ras, agama, bangsa dan keluarga. Juga hal ini merupakan platform Komunis.
Pernyataan Obama menghantui orang-orang yang menolak program serakah dan jahat mereka. Hal ini adalah merupakan sebuah refleksi dari Komunis (dan Sosialis serta Liberal). Mereka perlu untuk bersikap tidak manusiawi kepada orang yang berketuhanan dan yang ingin memelihara negara mereka, warisan budaya serta keluarga. Mereka perlu untuk percaya bahwa kita berprasangka, seorang fanatik buta, orang udik dan seorang fasis. Mereka tidak bisa melihat bagaimana diri mereka sudah dicuci otak.
"Pergilah Anda kesebuah kota kecil di Pennsylvania dan seperti banyak kota kecil lainnya di Midwest, lapangan pekerjaan tidak ada lagi sejak 25 tahun lalu dan tidak ada pekerjaan sebagai pengganti yang hilang tersebut. Dan tidaklah mengejutkan jika sikap mereka lebih tidak enak lagi, mereka bertaut kepada senapan atau agama atau antipati kepada orang yang tidak suka kepada mereka atau perasaan anti-imigran atau perasaan anti perdagangan sebagai sebuah cara untuk menjelaskan frustrasi mereka."
Obama melukiskan agama sebagai sebuah prasangka yang tidak logis yang disuapi oleh frustrasi ekonomi. "Sikap antipati kepada orang yang tidak menyukai mereka" mengacu kepada homoseks dan aktifis pejuang hak wanita yang telah menghancurkan institusi keluarga. "Anti imigran atau anti perdagangan" mengacu kepada kebijakan-kebijakan yang melindungi karakter nasional atau rasial. "Senapan" mengacu kepada perlunya untuk memandang orang ini bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan.
Obama managed to touch all the bases.
(Newsweek Cover February 16, 2009)
Orang Amerika dikacaukan oleh kecerobohan dalam pemilihan seorang Presiden selama lebih dari satu tahun dan hal ini akan memperhebat akibatnya dalam tujuh bulan mendatang. Dengan dilaksanakannya hal ini menjadikan mereka mempercayai bahwa di sana ada kesempatan untuk sebuah perubahan yang demokratis. Namun kenyataannya tidak ada. Seharusnya hal ini harus menjadi jelas dari sisi pemilihan anggota Kongres ketika publik memberikan partai Democrat sebuah mandat untuk mengakhiri perang Iraq. Apa yang terjadi. Sebaliknya. Bush bahkan mengirimkan lebih banyak tentara lagi ke Iraq.
Jelasnya peperangan di Irak akan berakhir bukan karena ketika Demokrat atau orang lain mengatakannya, akan tetapi ketika pemilik bank Illuminati memutuskan hal itu. Masalahnya adalah sama dengan Perang Vietnam.
KEBOHONGAN CLINTON
Keceplosan Hillary Clinton tentang bagaimana menghindari penembak gelap menyebabkan kegemparan dengan alasan yang sama. Ada sebuah peringatan bahwa Clinton yang waktu sebagai calon menceriterakan kebohongan dengan terang-terangan dan proses yang terjadi merupakan sebuah teka-teki.
Ketika dia ditanya bagaimana dia mampu "menentang" Perdagangan bebas ketika suaminya memperoleh jutaan dolar dari lobi yang dilakukannya, dia hanya tertawa saja dan berjalan lebih cepat. Dia sekali lagi terungkap berbohong.
Perhatikan pilihan Illuminati yang telah diberikan kepada Amerika. Seorang Komunis Hitam; seorang homoseks wanita atau lesbian, dan sebuah fosil yang merepresentasikan sebuah kelanjutan dari kebijakan-kebijakan celaka dari administrasi Bush. Siapa yang merepresentasikan mayoritas orang Amerika yang pekerja keras, baik dan jujur? Siapa yang benar-benar merepresentasikan perubahan? Tak seorangpun.
Obama berhubungan erat baik dengan Bush maupun Cheney.
Kapan orang Amerika (dan Indonesia tentunya bro) menyadari bahwa illuminati sedang menghancurkan negara mereka dan menertawakannya? Menghinakan dan mengejeknya serta membunuh mereka? Kapan mereka menyadari bahwa peristiwa 11 September 2001 dilakukan oleh Illuminati, bahwa para pemimpin mereka dan mass media sedang mengkhianati rakyatnya? Kapan mereka menyadari demokrasi Amerika Serikat telah dibajak?
Ketika mereka menyadarinya, Orang Amerika akan berhamburan ke jalan-jalan dengan senapan ditangan mereka. Dan itulah "perang melawan teror" yang sebenarnya: membuat sebuah negara polisi untuk menekan orang Amerika yang akan disebutnya sebagai "teroris."
Itulah yang seharusnya dipertanyakan kepada prajurit dan polisi, kepada siapa loyalitas mereka diberikan? Kepada orang asing - pemuja Setan yang sedang menjalankan roda pemerintahan atau kepada teman senegara mereka.
Sumber.
Labels:
Cerita Islam Di Dunia
Sebab Awal Pembantaian Rohingya Muslim.
Pembantaian ini di awali dari fitnah yang disebarkan oleh orang-orang
Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan
bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita
berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya
perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang
pemuda Budha Rakhine. Peristiwa pembunuhan itu di awali ketika sang
gadis ingin “putus” dengan sang pacar dikarenakan dia jatuh hati pada
laki-laki lain. Maka sang laki-laki pun berusaha membujuk agar tidak
putus. Namun ternyata ditolak, maka sang mantan pacar ini marah dan
kemudian mengajak dua temannya untuk membalas dendam dengan memperkosa
dan membunuh sang gadis.
Lalu para pembunuh itu meletakkan mayat gadis itu di dekat desa Muslim. Kemudian orang-orang Budha Rakhine dan Quaffer Burma (Otoritas Myanmar) menuduh bahwa orang-orang Muslim membunuh perempuan itu. Akibatnya, tiga pemuda Muslim yang tidak bersalah ditangkap. Satu dipukuli hingga tewas dan dua lainnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Inilah fakta yang ditunjukkan oleh Pemerintah Budha Burma kepada dunia, bahwa mereka berani menciptakan peristiwa dan kasus palsu hanya untuk mencari kesempatan membunuh Umat Islam Rohingnya.
Situasi Muslim Rohingya sebelum awal genosida ini.
Beberapa bulan sebelumnya, para ekstrimis Budha Rakhine dan Xenophobia, mereka banyak membuat propaganda-propaganda anti Muslim Rohingnya. Dan semua itu direlease baik di dalam maupun di luar Burma. Dengan mengusung slogan lama yakni “Rohingnya (sebutan untuk Muslim di sana -pent) bukanlah orang Burma, mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh”. Dengan maksud untuk memusnahkan dan mengusir Kaum Muslim
Ok, mari kita tanyakan pada hati nurani, apakah alasan memperkosa 1 wanita, lalu membunuh warga rohingya dari anak bayi, ibu, dan orang tua? Lalu membakar nya? Juga membakar perkampungan rohingya??
Wah, alasan bejat ini.. Bagaimana jika ada buddha yg memperkosa 1 wanita muslim di indonesia, lalu dgn alasan ini warga chinese(imigran) budha di indonesia dibakar semua? Tanya hati mu, buddha.
Sumber.
Lalu para pembunuh itu meletakkan mayat gadis itu di dekat desa Muslim. Kemudian orang-orang Budha Rakhine dan Quaffer Burma (Otoritas Myanmar) menuduh bahwa orang-orang Muslim membunuh perempuan itu. Akibatnya, tiga pemuda Muslim yang tidak bersalah ditangkap. Satu dipukuli hingga tewas dan dua lainnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Inilah fakta yang ditunjukkan oleh Pemerintah Budha Burma kepada dunia, bahwa mereka berani menciptakan peristiwa dan kasus palsu hanya untuk mencari kesempatan membunuh Umat Islam Rohingnya.
Situasi Muslim Rohingya sebelum awal genosida ini.
Beberapa bulan sebelumnya, para ekstrimis Budha Rakhine dan Xenophobia, mereka banyak membuat propaganda-propaganda anti Muslim Rohingnya. Dan semua itu direlease baik di dalam maupun di luar Burma. Dengan mengusung slogan lama yakni “Rohingnya (sebutan untuk Muslim di sana -pent) bukanlah orang Burma, mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh”. Dengan maksud untuk memusnahkan dan mengusir Kaum Muslim
Ok, mari kita tanyakan pada hati nurani, apakah alasan memperkosa 1 wanita, lalu membunuh warga rohingya dari anak bayi, ibu, dan orang tua? Lalu membakar nya? Juga membakar perkampungan rohingya??
Wah, alasan bejat ini.. Bagaimana jika ada buddha yg memperkosa 1 wanita muslim di indonesia, lalu dgn alasan ini warga chinese(imigran) budha di indonesia dibakar semua? Tanya hati mu, buddha.
Sumber.
Selamat Datang di Afganistan (KHURASAN)
Selamat Datang di Afganistan (KHURASAN), dimana kaum kafir kristen yg mencoba menjajah akan menjadi BANGKAI....
dari ceramah sheikh imran husein
#sheikh tolong jelaskan tentang letak geografis khurasan!!!
okay,,, dimana letak KHURASAN?
khurasan di jaman nabi (saw) telah diteliti oleh ilmuan islam asal pakistan yg terkenal DR. Isra Rahman dan dia telah menjelaskan bahwa khurasan adalah wilayah yg terbentang dari barat laut pakistan, timur laut iran DAN SELURUH WILAYAH AFGANISTAN dan bagian selatan tajikistan dan krygistan, tapi yg jelas AFGANISTAN ADALAH JANTUNGNYA KHURASAN
daerah ini (khurasan) memiliki keistimewaan dan sesuatu yg spesial, BAHWA PENJAJAH EROPA tidak pernah mampu menjajah khurasan
inggris mencobanya saat mereka menjadi negara adikuasa dan mereka gagal!
lalu selanjutnya RUsia mencobanya, ketika mereka masih menjadi super power "UNI SOviET" dan setelah 12 tahun berperang disana mereka gagal
dan tebak siapa yg sedang mencoba menjajah tanah khurasan sekarang?? perang dikhurasan yg di mulai oleh MR.BUSH
dan tebak hasilnya sampai skrg pun gabungan atau aliansi dari AMERIKA + NATO (prancis, jerman, australi, inggris, italy, turki, new zealand) tidak mampu menaklukan khurasan
pada hari dimana islam (pasukan THALIBAN atau alqaedakah yg dimaksud?) membebaskan AFGANISTAN, saya yakin pasukan inlah yg tidak bisa dihentikan hingga mereka mencapai yerusallem dan merebutnya dari kaum yahudi
seperti diceritakan dalam hadist nabi
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,
“Akan keluar dari Khurasan Panji-panji Hitam. Maka (Panji-panji Hitam itu) tidak dapat ditolak oleh sesuatu apa pun sehinggalah ditancapkan di Ilya’. (At-Tarmizi)
Sabda Nabi SAW,
“Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.” Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim)"
“Al-Mahdi akan datang setelah munculnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur (KHURASAN) yang mana pasukan itu selalu tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun.” (Ibnu Majah)
‘’Dajjal akan keluar dari muka bumi ini, di bagian timur yang bernama Khurasan”. (HR Tirmidzi). Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ‘’ (Pasukan yang membawa) bendera hitam akan muncul dari Khurasan. Tak ada kekuatan yang mampu menahan laju mereka dan mereka akhirnya akan mencapai Yerusalem, di tempat itulah mereka akan mengibarkan benderanya.’’ (HRTurmidzi).
Wallahu A'lam
Sumber.
dari ceramah sheikh imran husein
#sheikh tolong jelaskan tentang letak geografis khurasan!!!
okay,,, dimana letak KHURASAN?
khurasan di jaman nabi (saw) telah diteliti oleh ilmuan islam asal pakistan yg terkenal DR. Isra Rahman dan dia telah menjelaskan bahwa khurasan adalah wilayah yg terbentang dari barat laut pakistan, timur laut iran DAN SELURUH WILAYAH AFGANISTAN dan bagian selatan tajikistan dan krygistan, tapi yg jelas AFGANISTAN ADALAH JANTUNGNYA KHURASAN
daerah ini (khurasan) memiliki keistimewaan dan sesuatu yg spesial, BAHWA PENJAJAH EROPA tidak pernah mampu menjajah khurasan
inggris mencobanya saat mereka menjadi negara adikuasa dan mereka gagal!
lalu selanjutnya RUsia mencobanya, ketika mereka masih menjadi super power "UNI SOviET" dan setelah 12 tahun berperang disana mereka gagal
dan tebak siapa yg sedang mencoba menjajah tanah khurasan sekarang?? perang dikhurasan yg di mulai oleh MR.BUSH
dan tebak hasilnya sampai skrg pun gabungan atau aliansi dari AMERIKA + NATO (prancis, jerman, australi, inggris, italy, turki, new zealand) tidak mampu menaklukan khurasan
pada hari dimana islam (pasukan THALIBAN atau alqaedakah yg dimaksud?) membebaskan AFGANISTAN, saya yakin pasukan inlah yg tidak bisa dihentikan hingga mereka mencapai yerusallem dan merebutnya dari kaum yahudi
seperti diceritakan dalam hadist nabi
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,
“Akan keluar dari Khurasan Panji-panji Hitam. Maka (Panji-panji Hitam itu) tidak dapat ditolak oleh sesuatu apa pun sehinggalah ditancapkan di Ilya’. (At-Tarmizi)
Sabda Nabi SAW,
“Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.” Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim)"
“Al-Mahdi akan datang setelah munculnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur (KHURASAN) yang mana pasukan itu selalu tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun.” (Ibnu Majah)
‘’Dajjal akan keluar dari muka bumi ini, di bagian timur yang bernama Khurasan”. (HR Tirmidzi). Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ‘’ (Pasukan yang membawa) bendera hitam akan muncul dari Khurasan. Tak ada kekuatan yang mampu menahan laju mereka dan mereka akhirnya akan mencapai Yerusalem, di tempat itulah mereka akan mengibarkan benderanya.’’ (HRTurmidzi).
Wallahu A'lam
Sumber.
Labels:
Persatuan Islam
Selasa, Agustus 14, 2012
Kemerdekaan RI: Anugerah Allah Melalui Jihad Pahlawan dan Pejuang Islam
“Kalaulah suatu penduduk Negeri beriman dan bertakwa kepada Allah,
niscaya kami akan membuka kan berkah buat mereka dari langit dan dari
bumi…” (Al-A’raf 96)
hampir 67 tahun yang lalu Indonesia memerdekakan diri pada hari Jum’at, hari paling mulia dalam Islam, bertepatan pada bulan Ramadhan, bulan paling mulia dalam Islam. Tak diragukan lagi, sangat jelas artinya bahwa kemerdekaan adalah anugerah dari Allah SWT. Demikianlah, maka disebut dalam muqaddimah UUD 1945 bahwa atas berkat rahmat Allah telah sampailah Indonesia kepada gerbang kemerdekaan.
Dua bulan kemudian setelah Agustus, setiap tanggal 10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10 November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo.
Namun naas, karena sejarah milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun bagaimana pun juga, akhir sejarah, Allahlah yang menentukan. Bung Karno terkena tulah dari ucapannya yang terkenal "Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya." Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan dan jadi pesakitan yang sebenarnya, karena ulahnya yang tidak mampu menghargai jasa para pejuang. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Soeharto.
Bung Tomo yang setiap pidatonya dalam membakar semangat jihad rakyat Indonesia melawan penjajah kafir selalu diawali dan diakhiri dengan Takbir, Jum'at 7 November 2008 akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional bersama Dr Mohammad Natsir dan KH Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang kemerdekaan ini –seandainya masih hidup– mungkin akan bergumam "ah, malu aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang berdarah-darah itu?" Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan. Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.
dunia, dai, pendidik dan politisi ulung yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosi yang terkenal, Mosi Integral Natsir, menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya Pak Natsir, demikian biasa disapa, dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia . Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Di mana menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani surat-surat pemerintah jika tidak disusun dan dibaca dulu oleh Pak Natsir.
Sedangkan KH Abdul Halim adalah ulama karismatik asal Majalengka Jawa Barat –penulis sendiri lahir dan besar di kota yang sama, merasakan karisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat setempat– melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode pendidikannya yang khas.
Lalu apa pentingnya gelar Pahlawan Nasional bagi Bung Tomo, Pak Natsir dan KH Abdul Halim? Buat mereka bertiga tentu sangat tidak penting. Karena mereka adalah pahlawan sejati, yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari Allah SWT (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan diraih; para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di sawah, ladang, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam.
Para pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak akidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat Islamlah yang memerdekakan negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka sangat menyadari bahwa akan tetap hidup di sisi Allah sekalipun syahid di medan perang. Allah SWT berfirman,
“Laa tahsabanna ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaatan bal ahyaaun ‘inda Robbihim yurzaquun…” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki…)
Maka tidak lain dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan Negeri ini, karena seluruh pejuang kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Ilmu Sejarah UNPAD, Dr Ahmad Mansur Suryanegara, tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur Nusantara, Thomas Mattulesy ternyata seorang muslim yang bernama Muhammad atau Ahmad Lesy. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam. Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut.
Dalam buku Neiuw Guinea karangan WC Klein tertulis fakta bahwa Islam masuk Papua pada 1569. Barulah pada 5 Februari 1855, dua misionaris Kristen mendarat di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua. Ternyata menurut buku Penduduk Irian Barat(hal 105) sebagian besar tentara dan orang Belanda yang ditempatkan di Papua adalah rohaniawan Gereja (misionaris Katolik dan Zending Protestan).
…Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah…
Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah. Sementara itu Kata ‘Maluku’ diambil dari bahasa Arab muluk (Raja-Raja), wilayah Maluku saat ini dan Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya. Tragisnya, ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik ini.
Padahal, menurut para dai yang bertugas di sana, termasuk Ustadz Fadhlan Garamatan, seorang Da’i putra asli daerah, warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural terhadap rakyatnya tersebut. Ustadz Fadhlan menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan sabun sebelum mereka disyahadatkan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.
"...Warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap pada pembodohan struktural terhadap rakyatnya..."
Raja Sisinga Mangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri
Konsekuensinya umat-umat yang lain khususnya umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Kristiani tidak mungkin akan bangkit berjuang melawan penjajah. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi sementara agama yang dianutnya dengan agama para penjajahnya sama? Akankah mereka akan membunuh saudara seimannya? Lebih-lebih kita tahu Kristen disebarkan melalui penjajahan. Menurut keterangan Ahmad Mansur Suryanegara, “orang Kristen pada waktu itu, bukan lagi tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan mereka membantu kaum penjajah!”(hal tersebut beliau sampaikan langsung kepada penulis, saat penulis panel bersama beliau dalam Studium General Milad Pemuda Muhammadiyah ke-99 di Subang 22 November 2008). Bagi yang mengerti sejarah hal ini adalah fakta yang teramat jelas. Jadi sungguh mengherankan ketika mereka menuntut lebih. Bahkan sedikitpun sebenarnya mereka tidak berhak, ketika faktanya mereka tidak punya saham apapun dalam perjuangan kemerdekaan.
"...umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka tidak mungkin bangkit berjuang melawan penjajah dan membunuh saudara seimannya..."
Katakan dulu di BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, tercantum nama Maramis dan Latuharhary dua orang perwakilan umat Kristiani. Namun sungguh keberadaan dua orang tersebut faktanya masih buram. Jika benar mereka ada (bukan fiktif), apakah mereka tidak malu mengaku-ngaku tapi tidak ikut memperjuangkan kemerdekaan, atau menurut beberapa sumber mereka sengaja mendompleng ataudidomplengkan oleh Soekarno agar terlihat bahwa umat Kristiani juga punya peran dalam kemerdekaan Republik ini. Selain mereka juga termasuk yang habis-habisan menolak Piagam Jakarta. Hingga saat ini, umat Kristiani senantiasa menolak habis-habisan bila ada perundang-undangan yang mengatur ibadah dan muamalah umat Islam. Aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan mereka
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu, sehingga engkau mengikuti millah mereka.” (Al-Baqarah: 120)
Begitu besarnya peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya:
1. Pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjamaah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.
"…Pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara..."
2. Bahwa pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara, anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap ekslusif di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi (Bangsawan/ningrat) saja.
3. Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda. Hal paling mengerikan adalah pendiri Taman Siswa Ki Hajar Dewantara ternyata sangat membenci Islam.
4. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap
Pada hakikatnya dan seharusnya negeri ini adalah negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum positif di negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi dasar sahih keharusan negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor historis yang sudah dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung nilai-nilai syariat.
"…Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922)…"
Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah. Termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syariah. Tanpa malu-malu mereka mengancam akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Sesungguhnya, mereka harus berpisah diri-diri mereka saja dari bumi Indonesia, karena wilayah timur atau wilayah manapun di negeri ini adalah milik umat Islam.
Negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat Rahmat Allah SWT. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas Berkat Rahmat Allah SWT….” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah SWT tidak mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata modern penjajah kafir.
Para muarrikhin (sejarawan) mengatakan “sejarah milik penguasa”. Perjuangan seorang Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.
Sebagian besar dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa. Di mana pemikiran dan perjuangan sosok-sosok itu akan dibaca yang kemudian membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi Islam. Sehingga gelar pahlawan yang secara otomatis pengakuan konstitusional itu, senantiasa diulur-ulur.
Mereka khawatir jika setiap kali keluar dari kelas, para siswa akan memekikkan takbir Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar !!!
hampir 67 tahun yang lalu Indonesia memerdekakan diri pada hari Jum’at, hari paling mulia dalam Islam, bertepatan pada bulan Ramadhan, bulan paling mulia dalam Islam. Tak diragukan lagi, sangat jelas artinya bahwa kemerdekaan adalah anugerah dari Allah SWT. Demikianlah, maka disebut dalam muqaddimah UUD 1945 bahwa atas berkat rahmat Allah telah sampailah Indonesia kepada gerbang kemerdekaan.
Dua bulan kemudian setelah Agustus, setiap tanggal 10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10 November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo.
Namun naas, karena sejarah milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun bagaimana pun juga, akhir sejarah, Allahlah yang menentukan. Bung Karno terkena tulah dari ucapannya yang terkenal "Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya." Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan dan jadi pesakitan yang sebenarnya, karena ulahnya yang tidak mampu menghargai jasa para pejuang. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Soeharto.
Bung Tomo yang setiap pidatonya dalam membakar semangat jihad rakyat Indonesia melawan penjajah kafir selalu diawali dan diakhiri dengan Takbir, Jum'at 7 November 2008 akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional bersama Dr Mohammad Natsir dan KH Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang kemerdekaan ini –seandainya masih hidup– mungkin akan bergumam "ah, malu aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang berdarah-darah itu?" Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan. Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.
dunia, dai, pendidik dan politisi ulung yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosi yang terkenal, Mosi Integral Natsir, menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya Pak Natsir, demikian biasa disapa, dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia . Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Di mana menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani surat-surat pemerintah jika tidak disusun dan dibaca dulu oleh Pak Natsir.
Sedangkan KH Abdul Halim adalah ulama karismatik asal Majalengka Jawa Barat –penulis sendiri lahir dan besar di kota yang sama, merasakan karisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat setempat– melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode pendidikannya yang khas.
Lalu apa pentingnya gelar Pahlawan Nasional bagi Bung Tomo, Pak Natsir dan KH Abdul Halim? Buat mereka bertiga tentu sangat tidak penting. Karena mereka adalah pahlawan sejati, yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari Allah SWT (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan diraih; para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di sawah, ladang, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam.
Para pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak akidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat Islamlah yang memerdekakan negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka sangat menyadari bahwa akan tetap hidup di sisi Allah sekalipun syahid di medan perang. Allah SWT berfirman,
“Laa tahsabanna ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaatan bal ahyaaun ‘inda Robbihim yurzaquun…” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki…)
Maka tidak lain dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan Negeri ini, karena seluruh pejuang kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Ilmu Sejarah UNPAD, Dr Ahmad Mansur Suryanegara, tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur Nusantara, Thomas Mattulesy ternyata seorang muslim yang bernama Muhammad atau Ahmad Lesy. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam. Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut.
Dalam buku Neiuw Guinea karangan WC Klein tertulis fakta bahwa Islam masuk Papua pada 1569. Barulah pada 5 Februari 1855, dua misionaris Kristen mendarat di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua. Ternyata menurut buku Penduduk Irian Barat(hal 105) sebagian besar tentara dan orang Belanda yang ditempatkan di Papua adalah rohaniawan Gereja (misionaris Katolik dan Zending Protestan).
…Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah…
Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah. Sementara itu Kata ‘Maluku’ diambil dari bahasa Arab muluk (Raja-Raja), wilayah Maluku saat ini dan Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya. Tragisnya, ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik ini.
Padahal, menurut para dai yang bertugas di sana, termasuk Ustadz Fadhlan Garamatan, seorang Da’i putra asli daerah, warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural terhadap rakyatnya tersebut. Ustadz Fadhlan menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan sabun sebelum mereka disyahadatkan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.
"...Warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap pada pembodohan struktural terhadap rakyatnya..."
Raja Sisinga Mangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri
Konsekuensinya umat-umat yang lain khususnya umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Kristiani tidak mungkin akan bangkit berjuang melawan penjajah. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi sementara agama yang dianutnya dengan agama para penjajahnya sama? Akankah mereka akan membunuh saudara seimannya? Lebih-lebih kita tahu Kristen disebarkan melalui penjajahan. Menurut keterangan Ahmad Mansur Suryanegara, “orang Kristen pada waktu itu, bukan lagi tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan mereka membantu kaum penjajah!”(hal tersebut beliau sampaikan langsung kepada penulis, saat penulis panel bersama beliau dalam Studium General Milad Pemuda Muhammadiyah ke-99 di Subang 22 November 2008). Bagi yang mengerti sejarah hal ini adalah fakta yang teramat jelas. Jadi sungguh mengherankan ketika mereka menuntut lebih. Bahkan sedikitpun sebenarnya mereka tidak berhak, ketika faktanya mereka tidak punya saham apapun dalam perjuangan kemerdekaan.
"...umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka tidak mungkin bangkit berjuang melawan penjajah dan membunuh saudara seimannya..."
Katakan dulu di BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, tercantum nama Maramis dan Latuharhary dua orang perwakilan umat Kristiani. Namun sungguh keberadaan dua orang tersebut faktanya masih buram. Jika benar mereka ada (bukan fiktif), apakah mereka tidak malu mengaku-ngaku tapi tidak ikut memperjuangkan kemerdekaan, atau menurut beberapa sumber mereka sengaja mendompleng ataudidomplengkan oleh Soekarno agar terlihat bahwa umat Kristiani juga punya peran dalam kemerdekaan Republik ini. Selain mereka juga termasuk yang habis-habisan menolak Piagam Jakarta. Hingga saat ini, umat Kristiani senantiasa menolak habis-habisan bila ada perundang-undangan yang mengatur ibadah dan muamalah umat Islam. Aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan mereka
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu, sehingga engkau mengikuti millah mereka.” (Al-Baqarah: 120)
Begitu besarnya peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya:
1. Pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjamaah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.
"…Pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara..."
2. Bahwa pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara, anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap ekslusif di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi (Bangsawan/ningrat) saja.
3. Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda. Hal paling mengerikan adalah pendiri Taman Siswa Ki Hajar Dewantara ternyata sangat membenci Islam.
4. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap
Pada hakikatnya dan seharusnya negeri ini adalah negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum positif di negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi dasar sahih keharusan negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor historis yang sudah dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung nilai-nilai syariat.
"…Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922)…"
Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah. Termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syariah. Tanpa malu-malu mereka mengancam akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Sesungguhnya, mereka harus berpisah diri-diri mereka saja dari bumi Indonesia, karena wilayah timur atau wilayah manapun di negeri ini adalah milik umat Islam.
Negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat Rahmat Allah SWT. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas Berkat Rahmat Allah SWT….” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah SWT tidak mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata modern penjajah kafir.
Para muarrikhin (sejarawan) mengatakan “sejarah milik penguasa”. Perjuangan seorang Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.
Sebagian besar dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa. Di mana pemikiran dan perjuangan sosok-sosok itu akan dibaca yang kemudian membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi Islam. Sehingga gelar pahlawan yang secara otomatis pengakuan konstitusional itu, senantiasa diulur-ulur.
Mereka khawatir jika setiap kali keluar dari kelas, para siswa akan memekikkan takbir Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar !!!
Labels:
Inspirasi,
Persatuan Islam
Tiru-SBY, DPR Simpulkan Kasus Rohingya bukan Konflik Agama
Komisi I DPR menggelar pertemuan dengan dua aktivis muslim Rohingnya untuk membicarakan konflik antar etnis yang berkepanjangan yang menelan korban jiwa di Myanmar.
Komisi I menilai permasalahan tersebut hanyalah konflik antar etnis, yang tidak ada kaitannya dengan isu perselisihan antar agama seperti yang selama ini dikhawatirkan. "Kita lihat ini bukan masalah agama, tapi masalah etnis yang tidak boleh dikembangkan ke masalah agama," kata anggota Komisi I DPR Hayono Isman kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (13/08/2012).
Rapat yang dipimpin langsung Ketua Komisi I Mahfud Sidiq itu sepakat untuk mendorong Kementerian Luar Negeri memperjuangkan nasib warga Rohingnya di dunia internasional dengan isu sentral Hak Asasi Manusia (HAM).
"Pada pertemuan kali ini akan memberikan dukungan ke pemerintah terutama Menlu untuk membawa isu pelanggaran HAM, dan kita berharap pelanggaran HAM ini jangan dikaitkan dengan agama," jelasnya.
Keputusan tersebut diambil dengan alasan kemanusiaan. Sebab, sebagai negara yang plural, Indonesia juga pernah mengalami kasus yang sama. Maka jalan keluar terbaik adalah memberi kelayakan serta jaminan hidup terhadap seluruh warga negara Myanmar, termasuk Rohingnya.
"Karena masalah ini sensitif terhadap Indonesia. Mengingat Myanmar adalah sesama anggota ASEAN. Kita meningatkan Myanmar bahwa hak orang Rohingya itu harus diberikan selayaknya hak warga negara yang tinggal di Myanmar lainnya," tutup Hayono.
Sebelumnya kepala negara presiden SBY menyatakan juga bahwa kasus pembantaian muslim Rohingya di Myanmar bukanlah konflik agama.
Sumber.
Komisi I menilai permasalahan tersebut hanyalah konflik antar etnis, yang tidak ada kaitannya dengan isu perselisihan antar agama seperti yang selama ini dikhawatirkan. "Kita lihat ini bukan masalah agama, tapi masalah etnis yang tidak boleh dikembangkan ke masalah agama," kata anggota Komisi I DPR Hayono Isman kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (13/08/2012).
Rapat yang dipimpin langsung Ketua Komisi I Mahfud Sidiq itu sepakat untuk mendorong Kementerian Luar Negeri memperjuangkan nasib warga Rohingnya di dunia internasional dengan isu sentral Hak Asasi Manusia (HAM).
"Pada pertemuan kali ini akan memberikan dukungan ke pemerintah terutama Menlu untuk membawa isu pelanggaran HAM, dan kita berharap pelanggaran HAM ini jangan dikaitkan dengan agama," jelasnya.
Keputusan tersebut diambil dengan alasan kemanusiaan. Sebab, sebagai negara yang plural, Indonesia juga pernah mengalami kasus yang sama. Maka jalan keluar terbaik adalah memberi kelayakan serta jaminan hidup terhadap seluruh warga negara Myanmar, termasuk Rohingnya.
"Karena masalah ini sensitif terhadap Indonesia. Mengingat Myanmar adalah sesama anggota ASEAN. Kita meningatkan Myanmar bahwa hak orang Rohingya itu harus diberikan selayaknya hak warga negara yang tinggal di Myanmar lainnya," tutup Hayono.
Sebelumnya kepala negara presiden SBY menyatakan juga bahwa kasus pembantaian muslim Rohingya di Myanmar bukanlah konflik agama.
Sumber.
Labels:
Cerita Islam Di Dunia
Suriah versus Rohingya
Di sini, nun jauh dari tanah air, kami memantau perkembangan berita muslim Rohingya. Alhamdulillah, berangsur ada kemajuan. Perhatian dunia mulai dapat menekan pemerintah junta militer untuk berkompromi terhadap nasib saudara kita, etnis Muslim Rohingnya. Hati saya terkesiap sesak setiap disebut nama Rohingnya. Sungguh, kalaulah bukan karena persiapan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) lebih matang untuk misi Suriah, saya pun ingin membaur dengan teman-teman ACT dan lainnya untuk turut menyisingkan lengan membantu muslimin Rohingya. Apalagi sebelum ditunjuk oleh dr. Mashur untuk memimpin tim Suriah ini, saya mendapat email dari kawan saya sesama relawan Asia Caravan to Gaza dari Malaysia, mengajak berangkat ke Myanmar dengan kapal ala Freedom Flotilla.
Namun, Suriah dan Rohingnya bukan untuk dibeda-bedakan. Kalaulah saya hari ini datang jauh-jauh ke Yaydalagi, perbatasan Turki-Suriah ini, sama sekali bukan karena anggapan Suriah lebih penting, sehingga abai terhadap muslimin Rohingnya yang secara jarak lebih dekat. Musibah yang menimpa muslimin Rohingya terjadi di tengah-tengah kampanye kemanusiaan untuk rakyat Suriah yang diusung HASI sejak April lalu. Tepatnya setelah delegasi GMJ (Global March to Jerussalem) HASI bertemu dengan LSM Suriah dalam rangkaian acara tersebut.
Dana kemanusiaan dari umat Islam Indonesia untuk rakyat Suriah sudah terkumpul, kontak dan janji kerjasama dengan Jam’iyah Huququl Insan Suriah sudah disepakati, karenanya misi Suriah harus tetap berjalan. Sembari yakin, kawan-kawan LSM lain akan ambil bagian dalam krisis Rohingnya. Singkatnya, kami terbang ke Turki sambil “menitip” harapan soal Rohingnya sudah ada yang menangani. Bukankah seperti ini nikmatnya perbedaan LSM, dapat saling berbagi tugas sehingga masing-masing dapat fokus agar pekerjaan jadi efisien?
Rohingya tetap ada di hati kami, meski kami berkutat bersama penderitaan rakyat Suriah di perbatasan Turki ini. Bahkan, tak hanya di hati kami, orang Indonesia. Banyak pengungsi Suriah—di tengah belitan penderitaan—sempat menanyakan kabar Rohingnya kepada kami. Seorang pemuda Suriah bernama Yahya berkata kepada saya, “Ya Akhi, Indonesia tempat kalian itu dekat dengan Rohingya. Selain membantu kami, kalian wajib membantu mereka.” “Mengapa tidak ada yang melawan kebengisan kaum Budha dan junta militer di sana?” lanjutnya dengan ekspresi kemarahan yang tertahan. Dada saya bergemuruh haru mendengarnya. Saya baru betul-betul merasakan “ummat yang satu,” ya di sini ini.
Namun, gemuruh haru di dada saya seketika musnah berganti kekecewaan. Tepatnya sehari lalu ketika membaca sebuah media online yang mengutip pernyataan Ketua DPR-RI Marzuki Alie tentang krisis Suriah. Politisi Partai Demokrat itu mengatakan bahwa persoalan Suriah itu tidak lebih penting (dibanding Rohingya) karena sifatnya lebih kepada persoalan politik. “Presidennya dianggap gagal dan itu adalah persoalan internal. Sementara Rohingya itu bukan persoalan politik, tapi persoalan komunitas Islam Myanmar yang kabarnya dibantai oleh mayoritas. Maka ini menyangkut HAM.”
Kita tentu hafal, banyak politisi Partai Demokrat—partai penguasa yang dirundung kasus korupsi tiada henti—yang membuat pernyataan blunder. Mulai dari Ruhut Sitompoel hingga Marzuki Alie. Membodoh-bodohkan rakyat yang menggugat WC supermewah DPR, menganggap PRT TKW membawa citra buruk bangsa, menilai koruptor sebagai orang-orang pintar, dan pernyataan nyleneh lainnya.
Namun saya tidak menyangka, komentar ngawur itu juga diucapkan dalam mengomentari isu-isu internasional seperti krisis Suriah dan Rohingya. Bila ditulis dalam sebuah rangkaian kata berurutan, pernyataan tersebut mengandung kelemahan yang dapat diurai kata per kata. Ya, diurai kata per kata layaknya Al-Maraghi menafsirkan Al-Qur’an.
“Suriah tidak lebih penting daripada Rohingya.” Ucapan seperti ini jelas-jelas memecah belah persaudaraan umat Islam. Membeda-bedakan perlakuan terhadap kedua kelompok saudara sesama Muslim yang sedang tertimpa musibah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Saya sebenarnya sangat benci membeda-bedakan Suriah dan Rohingya. Namun untuk menjelaskan betapa ngawurnya Marzuki Alie, silakan bandingkan sendiri komparasi berikut: Rakyat Suriah dibantai Basar Asad dengan dukungan internasional (Iran, Rusia dan China); sementara, muslimin Rohingya dibantai oleh junta militer Burma sendirian, tanpa ada sokongan dari luar negeri. Bukan berarti yang berlaku kebalikannya, Suriah lebih penting daripada Rohingya. Sama sekali tidak. Ini persoalan nyawa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Tak boleh ada pembeda-bedaan.
“Persoalan politik internal, di mana Presidennya dianggap gagal. Sedangkan Rohignya itu minoritas dibantai mayoritas.” Mungkin sehari-hari hidup dalam kubangan politik dan kekuasaan, sehingga view yang dipakai dalam kasus Suriah ini pun sebatas persoalan politik. Memang, kasus Suriah dipantik oleh gejolak politik yang sering disebut sebagai Arab Spring. Namun, ketika sebuah rezim yang ingin mempertahankan kekuasaannya kemudian membantai 22.000 rakyatnya sendiri, mengakibatkan 1.000.000 jiwa terlunta-lunta mengungsi dan 65.000 lainnya hilang ditambah 3.000.000 jiwa terancam kelaparan… apakah itu dapat dibiarkan begitu saja hanya karena satu alasan, politik? Apalagi, konflik Suriah bukan lagi soal kekuasaan, melainkan sudah merembet ke soal agama, di mana banyak rakyat dipaksa berucap Tiada Tuhan Selain Basar Asad! Apakah hanya karena statusnya mayoritas kemudian Muslimin Suriah tidak wajib dibela meski jumlah korban mencapai angka di atas? Oh, malang nian nasib mayoritas; boleh dibunuh, diperkosa, dizalimi dan diperlakukan semaunya.
”Saya sebagai presiden parlemen negara-negara OKI menyampaikan kepada seluruh anggota PIC untuk mengambil peran sesuai amanat resolusi PIC 11 pada saat dilaksanakan di Palembang, harus membela kepentingan umat”. Maknanya, yang disebut oleh umat itu hanya muslimin Rohingya. Adapun Muslimin Suriah itu bukan bagian dari umat—padahal menyembah Rabb yang sama, mengikuti nabi yang sama dan sujud menghadap arah kiblat yang sama. Sungguh, sebuah pengkhianatan terhadap OKI, di mana Sang Presiden Parlemen sampai mengkotak-kotakkan umat seperti itu. Sang Presiden Parlemen, yang seolah memerankan peran sebagai khalifah yang menghasung umat untuk peduli dalam satu perkara dan cuek terhadap masalah lain.
Saya belum habis pikir dengan sosok Marzuki Alie, meski Tempo memuat 10 pernyataan kontroversialnya—sedangkan okezone memuat 7; silakan di-google untuk mengetahui rincinya. Namun tiba-tiba saya teringat akan sebuah acara yang digelar kelompok Syiah hari ini, Senin 13 Agustus 2012. Acara bertajuk Yaumul Quds itu diselenggarakan oleh VoP (Voice of Palestina), LSM Syiah yang (bersama-sama elemen lain) aktif dalam kampanye pro-Palestina. Menghadirkan pembicara Dr. Umar Shahab, ketua ABI (Ahlul Bait Indonesia), Dr. Mahmoud Farazandeh (Dubes Iran untuk Indonesia), Ir. Mujtahid Hasim sendiri selaku direktur VoP, dan “Yang Mulia” Ketua DPR-RI, Marzukie Ali. Ooo… pantes. Akhirnya saya bisa menyimpulkan mengapa Marzuki Alie enggan bersimpati terhadap penderitaan rakyat Suriah. Sayang, nama besar OKI dipakai untuk tameng sebuah kelompok.
Yayladagi, perbatasan Turki-Suriah
24 Ramadhan 1433 H. / 13 Agustus 2012 M.
Angga Dimas Pershada
Ketua Relawan HASI
Sumber.
Namun, Suriah dan Rohingnya bukan untuk dibeda-bedakan. Kalaulah saya hari ini datang jauh-jauh ke Yaydalagi, perbatasan Turki-Suriah ini, sama sekali bukan karena anggapan Suriah lebih penting, sehingga abai terhadap muslimin Rohingnya yang secara jarak lebih dekat. Musibah yang menimpa muslimin Rohingya terjadi di tengah-tengah kampanye kemanusiaan untuk rakyat Suriah yang diusung HASI sejak April lalu. Tepatnya setelah delegasi GMJ (Global March to Jerussalem) HASI bertemu dengan LSM Suriah dalam rangkaian acara tersebut.
Dana kemanusiaan dari umat Islam Indonesia untuk rakyat Suriah sudah terkumpul, kontak dan janji kerjasama dengan Jam’iyah Huququl Insan Suriah sudah disepakati, karenanya misi Suriah harus tetap berjalan. Sembari yakin, kawan-kawan LSM lain akan ambil bagian dalam krisis Rohingnya. Singkatnya, kami terbang ke Turki sambil “menitip” harapan soal Rohingnya sudah ada yang menangani. Bukankah seperti ini nikmatnya perbedaan LSM, dapat saling berbagi tugas sehingga masing-masing dapat fokus agar pekerjaan jadi efisien?
Rohingya tetap ada di hati kami, meski kami berkutat bersama penderitaan rakyat Suriah di perbatasan Turki ini. Bahkan, tak hanya di hati kami, orang Indonesia. Banyak pengungsi Suriah—di tengah belitan penderitaan—sempat menanyakan kabar Rohingnya kepada kami. Seorang pemuda Suriah bernama Yahya berkata kepada saya, “Ya Akhi, Indonesia tempat kalian itu dekat dengan Rohingya. Selain membantu kami, kalian wajib membantu mereka.” “Mengapa tidak ada yang melawan kebengisan kaum Budha dan junta militer di sana?” lanjutnya dengan ekspresi kemarahan yang tertahan. Dada saya bergemuruh haru mendengarnya. Saya baru betul-betul merasakan “ummat yang satu,” ya di sini ini.
Namun, gemuruh haru di dada saya seketika musnah berganti kekecewaan. Tepatnya sehari lalu ketika membaca sebuah media online yang mengutip pernyataan Ketua DPR-RI Marzuki Alie tentang krisis Suriah. Politisi Partai Demokrat itu mengatakan bahwa persoalan Suriah itu tidak lebih penting (dibanding Rohingya) karena sifatnya lebih kepada persoalan politik. “Presidennya dianggap gagal dan itu adalah persoalan internal. Sementara Rohingya itu bukan persoalan politik, tapi persoalan komunitas Islam Myanmar yang kabarnya dibantai oleh mayoritas. Maka ini menyangkut HAM.”
Kita tentu hafal, banyak politisi Partai Demokrat—partai penguasa yang dirundung kasus korupsi tiada henti—yang membuat pernyataan blunder. Mulai dari Ruhut Sitompoel hingga Marzuki Alie. Membodoh-bodohkan rakyat yang menggugat WC supermewah DPR, menganggap PRT TKW membawa citra buruk bangsa, menilai koruptor sebagai orang-orang pintar, dan pernyataan nyleneh lainnya.
Namun saya tidak menyangka, komentar ngawur itu juga diucapkan dalam mengomentari isu-isu internasional seperti krisis Suriah dan Rohingya. Bila ditulis dalam sebuah rangkaian kata berurutan, pernyataan tersebut mengandung kelemahan yang dapat diurai kata per kata. Ya, diurai kata per kata layaknya Al-Maraghi menafsirkan Al-Qur’an.
“Suriah tidak lebih penting daripada Rohingya.” Ucapan seperti ini jelas-jelas memecah belah persaudaraan umat Islam. Membeda-bedakan perlakuan terhadap kedua kelompok saudara sesama Muslim yang sedang tertimpa musibah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Saya sebenarnya sangat benci membeda-bedakan Suriah dan Rohingya. Namun untuk menjelaskan betapa ngawurnya Marzuki Alie, silakan bandingkan sendiri komparasi berikut: Rakyat Suriah dibantai Basar Asad dengan dukungan internasional (Iran, Rusia dan China); sementara, muslimin Rohingya dibantai oleh junta militer Burma sendirian, tanpa ada sokongan dari luar negeri. Bukan berarti yang berlaku kebalikannya, Suriah lebih penting daripada Rohingya. Sama sekali tidak. Ini persoalan nyawa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Tak boleh ada pembeda-bedaan.
“Persoalan politik internal, di mana Presidennya dianggap gagal. Sedangkan Rohignya itu minoritas dibantai mayoritas.” Mungkin sehari-hari hidup dalam kubangan politik dan kekuasaan, sehingga view yang dipakai dalam kasus Suriah ini pun sebatas persoalan politik. Memang, kasus Suriah dipantik oleh gejolak politik yang sering disebut sebagai Arab Spring. Namun, ketika sebuah rezim yang ingin mempertahankan kekuasaannya kemudian membantai 22.000 rakyatnya sendiri, mengakibatkan 1.000.000 jiwa terlunta-lunta mengungsi dan 65.000 lainnya hilang ditambah 3.000.000 jiwa terancam kelaparan… apakah itu dapat dibiarkan begitu saja hanya karena satu alasan, politik? Apalagi, konflik Suriah bukan lagi soal kekuasaan, melainkan sudah merembet ke soal agama, di mana banyak rakyat dipaksa berucap Tiada Tuhan Selain Basar Asad! Apakah hanya karena statusnya mayoritas kemudian Muslimin Suriah tidak wajib dibela meski jumlah korban mencapai angka di atas? Oh, malang nian nasib mayoritas; boleh dibunuh, diperkosa, dizalimi dan diperlakukan semaunya.
”Saya sebagai presiden parlemen negara-negara OKI menyampaikan kepada seluruh anggota PIC untuk mengambil peran sesuai amanat resolusi PIC 11 pada saat dilaksanakan di Palembang, harus membela kepentingan umat”. Maknanya, yang disebut oleh umat itu hanya muslimin Rohingya. Adapun Muslimin Suriah itu bukan bagian dari umat—padahal menyembah Rabb yang sama, mengikuti nabi yang sama dan sujud menghadap arah kiblat yang sama. Sungguh, sebuah pengkhianatan terhadap OKI, di mana Sang Presiden Parlemen sampai mengkotak-kotakkan umat seperti itu. Sang Presiden Parlemen, yang seolah memerankan peran sebagai khalifah yang menghasung umat untuk peduli dalam satu perkara dan cuek terhadap masalah lain.
Saya belum habis pikir dengan sosok Marzuki Alie, meski Tempo memuat 10 pernyataan kontroversialnya—sedangkan okezone memuat 7; silakan di-google untuk mengetahui rincinya. Namun tiba-tiba saya teringat akan sebuah acara yang digelar kelompok Syiah hari ini, Senin 13 Agustus 2012. Acara bertajuk Yaumul Quds itu diselenggarakan oleh VoP (Voice of Palestina), LSM Syiah yang (bersama-sama elemen lain) aktif dalam kampanye pro-Palestina. Menghadirkan pembicara Dr. Umar Shahab, ketua ABI (Ahlul Bait Indonesia), Dr. Mahmoud Farazandeh (Dubes Iran untuk Indonesia), Ir. Mujtahid Hasim sendiri selaku direktur VoP, dan “Yang Mulia” Ketua DPR-RI, Marzukie Ali. Ooo… pantes. Akhirnya saya bisa menyimpulkan mengapa Marzuki Alie enggan bersimpati terhadap penderitaan rakyat Suriah. Sayang, nama besar OKI dipakai untuk tameng sebuah kelompok.
Yayladagi, perbatasan Turki-Suriah
24 Ramadhan 1433 H. / 13 Agustus 2012 M.
Angga Dimas Pershada
Ketua Relawan HASI
Sumber.
Labels:
Cerita Islam Di Dunia
Waduh! Kertas Alquran Dijadikan Bungkus Petasan
Seperti biasa petasan kembali membuat heboh
bulan Ramadan tahun ini. Namun kali ini petasan yang membuat heboh
tersebut dibuat dari kertas Alquran. Bahkan peredaran petasan berbungkus
kertas bertuliskan penggalan ayat Alquran itu semakin luas.
Penemuan petasan berbungkus kertas kitab suci Alquran itu berawal dari
Panton Labu, Aceh Utara. Namun belakangan, peredaran petasan itu semakin
luas di wilayah Aceh. Bahkan sudah sampai di Lhoksumawe hingga ke Lhok
Nibong, Aceh Timur.
Hingga hari Kamis (2/8/2012) kemarin, sudah banyak warga Aceh yang
melaporkan penemuan petasan berbungkus kertas Alquran tersebut.
Kebanyakan dari mereka menemukan mercon berukuran kecil yang dibungkus
dengan kertas Alquran dan kertas bertuliskan kalimat Allah.
Seperti yang dilaporkan Tgk Irham pedagang Toko Kejora dan Tgk Fadli
pedagang Toko Selamat. Keduanya mengaku menemukan petasan berbungkus
kertas Alquran di Jalan Banda Aceh-Medan Lhok Nibong.
Temuan tersebut sudah diserahkan kepada Tgk Abdurrahman BTM Pimpinan
Dayah Fathurrahman Teupin Batee. Dalam satu kotak mercon jenis cabe
(petasan ukuran kecil), katanya, ada dua sampai dengan lima biji yang
menggunakan lembaran Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pembungkusnya.
Temuan lainnya dilaporkan oleh remaja masjid Besar Nurul Iman Nibong, M
Fadhil Abta. Ia mengaku menemukan mercon atau petasan ukuran kecil
terbungkus kertas Kalam Allah. Temuan ini sudah diserahkan ke Sekcam
Kecamatan Nibong, Faud Cahyadi SSTP.
“Semalam saya melintas di Jalan Baru. Terus saya lihat ada bungkus
mercon bekas di pakai. Nah, ternyata ada tulisan arabnya (Alquran),”
kata Iqbal, mahasiswa yang juga menemukan mercon kertas Alquran itu,
seperti dikutip Tribunnews.
Sementara itu, Juru Dakwah, Tgk H Abdurrahman BTM memberitahukan bahwa
pihaknya telah menerima beberapa kotak petasan yang dibungkus dengan
sobekan kertas dari Kitab Suci Alquran. Menurutnya, ini sudah sangat
mengkhawatirkan.
Abdurrahman BTM meminta Kapolda Aceh untuk segera melakukan tindakan
terkait peredaran petasan berbungkus kertas Alquran tersebut. Karena
menurut para alim ulama Aceh, petasan berbungkus kertas Alquran itu
berpotensi sebagai bentuk pelecehan agama.)
Sumber.
bulan Ramadan tahun ini. Namun kali ini petasan yang membuat heboh
tersebut dibuat dari kertas Alquran. Bahkan peredaran petasan berbungkus
kertas bertuliskan penggalan ayat Alquran itu semakin luas.
Penemuan petasan berbungkus kertas kitab suci Alquran itu berawal dari
Panton Labu, Aceh Utara. Namun belakangan, peredaran petasan itu semakin
luas di wilayah Aceh. Bahkan sudah sampai di Lhoksumawe hingga ke Lhok
Nibong, Aceh Timur.
Hingga hari Kamis (2/8/2012) kemarin, sudah banyak warga Aceh yang
melaporkan penemuan petasan berbungkus kertas Alquran tersebut.
Kebanyakan dari mereka menemukan mercon berukuran kecil yang dibungkus
dengan kertas Alquran dan kertas bertuliskan kalimat Allah.
Seperti yang dilaporkan Tgk Irham pedagang Toko Kejora dan Tgk Fadli
pedagang Toko Selamat. Keduanya mengaku menemukan petasan berbungkus
kertas Alquran di Jalan Banda Aceh-Medan Lhok Nibong.
Temuan tersebut sudah diserahkan kepada Tgk Abdurrahman BTM Pimpinan
Dayah Fathurrahman Teupin Batee. Dalam satu kotak mercon jenis cabe
(petasan ukuran kecil), katanya, ada dua sampai dengan lima biji yang
menggunakan lembaran Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pembungkusnya.
Temuan lainnya dilaporkan oleh remaja masjid Besar Nurul Iman Nibong, M
Fadhil Abta. Ia mengaku menemukan mercon atau petasan ukuran kecil
terbungkus kertas Kalam Allah. Temuan ini sudah diserahkan ke Sekcam
Kecamatan Nibong, Faud Cahyadi SSTP.
“Semalam saya melintas di Jalan Baru. Terus saya lihat ada bungkus
mercon bekas di pakai. Nah, ternyata ada tulisan arabnya (Alquran),”
kata Iqbal, mahasiswa yang juga menemukan mercon kertas Alquran itu,
seperti dikutip Tribunnews.
Sementara itu, Juru Dakwah, Tgk H Abdurrahman BTM memberitahukan bahwa
pihaknya telah menerima beberapa kotak petasan yang dibungkus dengan
sobekan kertas dari Kitab Suci Alquran. Menurutnya, ini sudah sangat
mengkhawatirkan.
Abdurrahman BTM meminta Kapolda Aceh untuk segera melakukan tindakan
terkait peredaran petasan berbungkus kertas Alquran tersebut. Karena
menurut para alim ulama Aceh, petasan berbungkus kertas Alquran itu
berpotensi sebagai bentuk pelecehan agama.)
Sumber.
Ciricara Petasan Dari
Kertas Alquran 250x166 Waduh! Kertas Alquran Dijadikan Bungkus
PetasanAceh (CiriCara.com) – Seperti biasa petasan kembali membuat heboh
bulan Ramadan tahun ini. Namun kali ini petasan yang membuat heboh
tersebut dibuat dari kertas Alquran. Bahkan peredaran petasan berbungkus
kertas bertuliskan penggalan ayat Alquran itu semakin luas.
Penemuan petasan berbungkus kertas kitab suci Alquran itu berawal dari
Panton Labu, Aceh Utara. Namun belakangan, peredaran petasan itu semakin
luas di wilayah Aceh. Bahkan sudah sampai di Lhoksumawe hingga ke Lhok
Nibong, Aceh Timur.
Hingga hari Kamis (2/8/2012) kemarin, sudah banyak warga Aceh yang
melaporkan penemuan petasan berbungkus kertas Alquran tersebut.
Kebanyakan dari mereka menemukan mercon berukuran kecil yang dibungkus
dengan kertas Alquran dan kertas bertuliskan kalimat Allah.
Seperti yang dilaporkan Tgk Irham pedagang Toko Kejora dan Tgk Fadli
pedagang Toko Selamat. Keduanya mengaku menemukan petasan berbungkus
kertas Alquran di Jalan Banda Aceh-Medan Lhok Nibong.
Temuan tersebut sudah diserahkan kepada Tgk Abdurrahman BTM Pimpinan
Dayah Fathurrahman Teupin Batee. Dalam satu kotak mercon jenis cabe
(petasan ukuran kecil), katanya, ada dua sampai dengan lima biji yang
menggunakan lembaran Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pembungkusnya.
Temuan lainnya dilaporkan oleh remaja masjid Besar Nurul Iman Nibong, M
Fadhil Abta. Ia mengaku menemukan mercon atau petasan ukuran kecil
terbungkus kertas Kalam Allah. Temuan ini sudah diserahkan ke Sekcam
Kecamatan Nibong, Faud Cahyadi SSTP.
“Semalam saya melintas di Jalan Baru. Terus saya lihat ada bungkus
mercon bekas di pakai. Nah, ternyata ada tulisan arabnya (Alquran),”
kata Iqbal, mahasiswa yang juga menemukan mercon kertas Alquran itu,
seperti dikutip Tribunnews.
Sementara itu, Juru Dakwah, Tgk H Abdurrahman BTM memberitahukan bahwa
pihaknya telah menerima beberapa kotak petasan yang dibungkus dengan
sobekan kertas dari Kitab Suci Alquran. Menurutnya, ini sudah sangat
mengkhawatirkan.
Abdurrahman BTM meminta Kapolda Aceh untuk segera melakukan tindakan
terkait peredaran petasan berbungkus kertas Alquran tersebut. Karena
menurut para alim ulama Aceh, petasan berbungkus kertas Alquran itu
berpotensi sebagai bentuk pelecehan agama. (YG)
>
>
Labels:
Cerita Islam Di Dunia
Langganan:
Postingan (Atom)




